Minggu, 06 Juni 2010

Adab dan Tata Tertib Berzikir

 Adab dan Tata Tertib Berzikir PDF Cetak E-mail
Imam Ghazali mengatakan ada empat (4) peringkat zikir.
a.  Dzikir hanya dengan lisan
b.  Dzikir dengan lisan disertai hati secara dipaksa-paksakan (takalluf)
c.  Dzikir dengan hati dan hadirnya pada lisan tanpa dipaksa-paksakan
d.  Dzikir yang benar-benar terhunjam kedalam hati sanubari sehingga orang yang berdzikir merasa tenggelam didalamnya.
Selanjutnya Imam Ghazali menjelaskan bahwa dzikir peringkat pertama sedikit manfaatnya lemah pengaruh dan bekasnya itu adalah dzikir dengan lisan tetapi hatinya lengah. Sudah tentu dzikir hanya dengan lisan tanpa disertai hati amat sedikit kegunaannya dan manfaatnya. Akan tetapi itu masih lebih baik daripada meninggalkan dzikir sama sekali.     Dengan demikian orang yang berdzikir dengan lisannya harus berusaha keras menghadirkan hatinya bersama lisannya yang sedang mengucapkan kalimah dzikir. Yang dimaksud dengan dzikir lisan ialah mengucapkan kalimah suci dengan lidah seperti mengucapkan : Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar, Laa haula walaa quwwata illa billah, membaca Asma’ul Husna, Tilawah Al-Qur’an dan sebagainya yang bersifat memuji kebesaran Allah. Sedangkan dzikir hati ialah tafakkur mengingat Allah, merenungi rahasia ciptaan-Nya secara mendalam dan merenungi tentang dzat dan sifat Allah Yang Maha Mulia, atau dalam hati selalu menyebut Allah (dzikir Ismuzat).
Orang yang berdzikir hendaknya mengindahkan tatakrama atau adab dalam keadaan yang sebaik-baiknya lahir maupun bathin.
Adapun adab-adab dzikir secara lahir adalah sebagai berikut :
  1. Seyogianya seseorang yang berdzikir itu hendaknya berkelakuan yang baik. Jika ia dalam duduk hendaknya ia menghadap kiblat dengan sikap khusyu’, menghina kan diri kepada Allah, tenang dan menundukkan kepala.
  2. Tempat berdzikir itu harus suci dan bersih terlepas dari segala yang membimbangkan perasaan.
  3. Hendaknya orang yang berdzikir itu membersihkan mulutnya sebelum ia mulai berdzikir.
Namun secara umum dibolehkan kita berdzikir dari segala keadaan sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an :
 (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali – Imran : 191)
Dan Firman Allah :
 “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Q.S. An-Nisaa’:103)
Dengan demikian kita dibolehkan berdzikir dalam segala rupa keadaan kita, yakni baik dikala kita sedang duduk, dikala sedang berdiri dan sedang berjalan. Hanya dalam beberapa hal saja yang tiada disukai kita untuk berdzikir yaitu dikala sedang di WC, sedang berjima’, sedang mendengarkan khutbah dan sedang dalam keadaan sangat mengantuk.
Sedangkan adab-adab dzikir secara bathin adalah ;        
Seseorang yang berdzikir hendaknya ia menghadirkan hatinya dan menghayati makna dzikir itu dikala lidahnya menyebut kalimah dzikir. Berkata Al-Asnawy : “Barang siapa yang berdzikir tetapi lalai dari memperhatikan makna  tiadalah dipahalai dzikirnya itu”.
Didalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziah, dijelaskan bahwa :  Ada tiga derajat dzikir, yaitu :
1. Dzikir secara zhahir, berupa pujian, doa atau pengawasan.
Yang dimaksud zhahir adalah apa yang disampaikan lisan dan sesuai dengan suara hati. Jadi tidak sekedar dzikir sebatas lisan semata. Sedangkan pujian seperti Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallahuakbar. Do’a seperti yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, dan hal ini sangat banyak jenisnya. Sedangkan pengawasan, seperti ucapan “Allah besertaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku”, dan lain sebagainya yang dapat menguatkan kebersamaannya dengan Allah, yang intinya mengandung pengawasan terhadap kemaslahatan hati, menjaga adab bersama Allah, mewaspadai kelalaian dan berlindung dari syetan serta hawa nafsu.  
2. Dzikir tersembunyi, yaitu membebaskan diri dari segala belenggu, berada bersama Allah dan hati yang senantiasa bermunajat kepada Rabb-nya.
Yang dimaksud tersembunyi disini ialah dzikir hanya dengan hati. Ini merupakan buah dari dzikir yang pertama. Sedangkan maksud membebaskan diri dari segala belenggu artinya membebaskan diri dari lalai dan lupa, memebebaskan diri dari tabir penghalang antara hati dan Allah. Berada bersama Allah artinya seakan-akan dapat melihat Allah. Senantiasa bermunajat artinya menjadikan hati bermunajat, terkadang dengan cara merendahkan diri, terkadang dengan cara memuji, mengagungkan dan lain sebagainya dari bermacam-macam munajat yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi atau dengan hati. Ini merupakan keadaan setiap orang yang jatuh cinta dan yang dicintainya.
3. Dzikir yang hakiki, yaitu pengingatan Allah terhadap diri hamba, membebaskan diri dari kesaksian dzikirmu dan mengetahui bualan orang yang berdzikir bahwa ia berada dalam dzikir.
Dzikir dalam derajat ini disebut yang hakiki, karena dzikir itu dinisbatkan kepada Allah. Sedangkan dzikir yang dinisbatkan kepada hamba, maka itu bukan yang hakiki. Allah yang mengingat hamba-Nya merupakan dzikir (pengingatan) yang hakiki. Ini merupakan kesaksian dzikir Allah terhadap hamba-Nya dan Dia menyebutnya diantara orang-orang yang layak untuk diingat, lalu menjadikannya orang yang senantiasa berdzikir kepada-Nya. Jadi pada hakikatnya dia orang yang berdzikir untuk kepentingan dirinya sendiri. Karena Allah lah yang menjadikan dirinya orang yang berdzikir kepada-Nya, lalu Allah pun mengingatnya. Orang yang berada dalam dzikir lalu dia mempersaksikan terhadap dirinya  bahwa dia orang yang berdzikir, merupakan bualan. Padahal dia tidak mempunyai kekuasaan untuk berbuat. Bualan ini tidak hilang dari dirinya kecuali jika dia meniadakan kesaksian terhadap dzikirnya.   
Didalam ajaran thariqat,  Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Khani Al-Khalidi Naqsyabandi dalam kitabnya “Al-Bahjatus Saniah”, lebih jauh memperinci adab berzikir itu yang disesuaikan dengan pendapat Imam Sya’rani dalam kitabnya “Nafahatu Wa Adabuz Dzikri” sebagai berikut : Adapun adab berdzikir itu 20 (dua puluh) macam terdiri dari ; 5 (lima) macam sebelum berdzikir, 12 (dua belas) macam sedang berdzikir dan 3 (tiga) macam sesudah berdzikir.
5 (lima) macam adab sebelum berdzikir itu adalah :
  1. Taubat dari semua kesalahan baik perkataan maupun perbuatan dan kehendak. Barang siapa tidak tabuat, niscaya tiada sesuatu pun yang datang kepadanya.
  2. Mandi dan berwudhu. Abu Yazid Busthami bila hendak berdzikir, lebih dahulu berwudhu dan membasuh mulutnya dengan air mawar.
  3. Diam dengan perhatian terpusat kepada Allah, sambil mengucap “Laa Ilaaha Illallallah”.
  4. Sejak mulai berdzikir, hatinya terus-menerus berhubung an dengan Syeikh (Mursidnya).
  5. Berhubungan rapat terus-menerus dengan syeikh itu pada hakikatnya adalah lanjutan  dari berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW., karena Syeikh harus dianggap washilah (perantara) diantaranya dengan Nabi Muhammad SAW.
12 (dua belas) macam adab ketika berdzikir adalah ;
  1. Duduk disuatu tempat atau ruangan yang suci seperti duduk dalam shalat.
  2. Meletakkan kedua telapak tangan keatas dua paha.
  3. Mewangikan pakaian dan tempat dengan minyak wangi.
  4. Memakai pakaian yang bersih dan halal.
  5. Memilih tempat yang agak gelap dan sunyi.
  6. Memejamkan dua mata, karena dengan mata terpejam itu, tertutup jalan-jalan panca indra lahir, sehingga mengakibatkan terbukanya panca indra hati.
  7. Menghayalkan rupa Syekh dihadapannya. Adab inilah yang paling keras tuntutannya dikalangan mereka.
  8. Benar dalam dzikir, baik sir maupun dzikir jahar.
  9. Ikhlas, yakni membersihkan amal dari campuran dengan sesuatu.
  10. Tidak berdzikir menurut sesuka hati, tetapi hendaklah mengamalkan lafaz dzikiir yang diajarkan Syeikh.
  11. Menghadirkan makna dzikir dalam hati, sesuai dengan tingkatannya dalam musyahadah, dan melaporkan sesuatu perasaan atau pengalaman selama berdzikir kepada Syeikh.
  12. Meniadakan (menafikan) semua yang ada ini dalam Qalbu, kecuali Allah, karena ia tidak menyukai sesuatu selain Allah dalam hati hamba-Nya.
Sedangkan 3 (tiga) macam adab setelah berdzikir adalah sebagai berikut :
  1.  Diam, dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu’ (rendah hati) menunggu atau mengintip sesuatu yang akan tiba, sebagai akibat dari dzikir itu.
  2. Menghela nafas beberapa kali, supaya hati bersinar dan hijab cepat terbuka. Menarik nafas itu dapat memutus kan lintasan setan, dan dilakukan tujuh kali. Setiap kali, tarikan nafas itu lebih lama dari biasanya.
  3. Tidak boleh minum selesai berdzikir, karena minum sesudah berdzikir itu dapat memadamkan hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar